Membangun Kesiapsiagaan Dalam Menghadapi Ancaman Bencana Hidrometeorologi

Koslata kembali menyelenggarakan DISKO (Diskusi Koslata) edisi 10 membahas bagaimana membangun kesiapsiagaan dalam menghadapi ancaman bencana Hidrometeorologi, Selasa (3/11/2020).

Beberapa masyarakat dari Lembar, kuripan, dan Sekotong mengikuti sesi diskusi ini.

Sesi ini diisi oleh Rujito. Pak De, sapaan akrabnya menyampaikan tujuan diskusi hari ini yakni pertama, meminimalisir risiko terhadap setiap ancaman. Kedua, Mengetahui ancaman dan risikodi daerah. Ketiga, merencanakan kiat-kiat mitigasi praktis yang patut diperhatikan dan berpeluang besar membantu penyelematan dan pelindungan diri.

Kedepannya diharapkan ada inisiasi untuk membuat kiat-kiat guna mengantisipasi dan memitigasi masing-masing ancaman. Berbeda ancaman mitigasinya akan berbeda.

Untuk menyusun gladi hal yang perlu dilakukan itu cek ancamannya. susun tahapannya kemudian uji coba.

Menyusun sistem peringatan dini juga penting. Pak Rujito mengajak peserta diskusi brainstorming terkait siapa yang bertanggungjawab menyusun sistem peringatan dini? Dirinya mengatakan pemerintah harus berinisiasi membangun kesiapsiagaan. Penyusunan pringatan dini ini bisa juga diinisiasi oleh masyarakat kemudian berkoordinasi dengan pihak pemerintah.

Sulistiyono menambahkan, “Sebelum membahas lebih jauh kita satukan pemahaman dulu tentang apa itu bencana Hidrometeorologi.” Ia memaparkan artinya bencana hidrometeorologi adalah bencana yang diakibatkan oleh parameter-parameter meteorologi seperti curah hujan, kelembaban, temperatur dan angin. Contoh bencana hidrometeorologi diantaranya banjir, angin puting beliung, longsor, banjir bandang, abrasi hingga gelombang pasang.

Menurut Sulistiyono, setelah kita mengetahui apa bencananya, maka akan mempermudah kita untuk melakukan analisis risiko. “Kalau dalam logika matematika rumusnya risiko ini adalah ancaman dikali kerentanan dibagi kapasitas. Artinya untuk mengurangi risiko harus mengurangi ancaman dan mengurangi kerentanan, kemudian meningkatkan kapasitas. Jika kapasitas meningkat maka risiko akan berkurang.” Tuturnya.

Dalam kajian risiko bencana, nantinya diharapkan menghasilkan; peta risiko untuk semua ancaman, RPB (rencana penanggulangan bencana) untuk lima tahun dan RAD PRB (Rencana Aksi Daerah Penanggulangan Risiko Bencana).

Rujito kembali menambahkan, “Mengenai peta ancaman sebisa mungkin masing-masing ancaman ada petanya. Didalam peta juga harus ada mata angin,” pungkasnya.

Koslata

Perkumpulan yang bervisi untuk mewujudkan perubahan sosial yang demokratis dan berkeadilan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *