Pemuda Sekotong Datangi Koslata Bedah Implementasi SDG’s

Sekumpulan pemuda peduli Sekotong bertandang ke kantor Koslata membedah bagaimana implementasi SDG’s di Kecamatan Sekotong, Lombok Barat (Selasa, 27/10/2020). Dilakukan oleh generasi muda ini sebagai upaya untuk lebih memahami kondisi yang terjadi di wilayah mereka. Apakah berkembang, stagnan atau justru kian terbelakang.

Pada pertemuan sebelumnya, Sulistiyono (Direktur Koslata) memberikan pengantar terdapat 17 Tujuan Pembanguan Berkelanjutan/SDG’s SDG’s (Sustainable Development Goals) yakni; pertama, menghapus kemiskinan. Kedua, menghapus kelaparan dan mewujudkan pertanian yang berkelanjutan. Ketiga, kesehatan untuk semua umur. Keempat, pendidikan yang berkualitas dan merata. Kelima, kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan dan remaja perempuan. Keenanm, ketersediaan air minum dan sanitasi untuk semua. Ketujuh, energy untuk semua. Kedelapan, pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan lapangan kerja layak. Kesembilan, infrastruktur yang kuat dan industrialisasi yang berkelanjutan. Kesepuluh, menurunkan ketimpangan. Kesebelas, kota dan hunian yang inklusif, aman dan berkelanjutan. Keduabelas, pola konsumsi dan produksi yang berkelanjutan. Ketiga belas, melawan perubahan iklim dan dampaknya. Keempatbelas, konservasi pemanfaatan laut, pesisir dan laut dalam. Kelimabelas, melindungi dan merestorasi ekosistem, dan perlindungan hutan. Keenambelas, masyarakat yang damai, tanpa kekerasan, pemerintahan yang akuntabel, antikorupsi dan non diskriminasi. Terakhir, kerjasama internasional yang semakin kuat.

Setelah diberikan pengantar para pemuda peduli Sekotong bersepakat untuk mencari data, mengolah dan mempresentasikannya. Salah satu perwakilannya melakukan presentasi analisis data-data yang mereka temukan terkait implementasi tujuan pertama (menghapus kemiskinan) dari 17 tujuan dalam SDG’s (Sustainable Development Goals) di Kecamatan Sekotong. Ada point menarik yang disampaikan bahwa tren data kemiskinan tahun 2016-2019 menunjukkan terjadi penurunan angka kemiskinan dari 16,73 persen di tahun 2016 menjadi 15,17 persen pada tahun 2019. Disisi lain presentase indeks kedalaman kemiskinan dan indeks keparahan kemiskinan justru meningkat.      

Sulistiyono (Direktur Koslata) memberikan respon dari presentasi yang disampaikan bahwa betapa pentingnya data, mengolah data, dan tepat membaca data sebagai dasar melakukan analisis. Juga sebaiknya fokus pada satu indikator saja dulu tapi mendalam, agar satu indikator ini bisa menjadi pintu masuk ke indikator-indikator yang lain.

Ia juga menambahkan “kedepan, teman-teman bikin kelompok studi saja misalkan fokus terkait kondisi air, nanti diseminasikan hasilnya. Terus ajak pemuda-pemuda Sekotong yang lain melakukan gerakan sosial. Intinya konsisten dilakukan. Karena bicara terkait pemenuhan air minum yang layak akan terus urgent untuk dibahas dan direspon”.

Koslata

Perkumpulan yang bervisi untuk mewujudkan perubahan sosial yang demokratis dan berkeadilan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *