NTB Dilanda Kekeringan Lagi, Sulistiyono: Hidupkan Kembali Budaya Manen Air

Source Image: Lombok Post

Akses terhadap air bersih adalah Hak Asasi Manusia. Air memiliki peran vital terhadap kehidupan. Rata-rata manusia bisa bertahan hidup selama 40 hari tanpa makan, tapi tak akan bertahan hidup lebih dari tujuh hari tanpa minum.   Ada 1 dari 10 orang tidak memiliki akses terhadap air bersih. Satu anak meninggal setiap 90 detik akibat penyakit yang berhubungan dengan air dan sanitasi.

Menurut laporan World Economic Forum, krisis air adalah risiko global #4 dalam hal dampaknya bagi masyarakat. Perserikatan bangsa-bangsa memperkirakan pada tahun 2025 akan ada sekitar 1,8 miliar manusia tinggal di negara yang mengalami kelangkaan air absolut. Selain itu dua per tiga populasi dunia berada dalam bayang-bayang kekurangan air. Tak terkecuali Indonesia pada umumnya dan provinsi Nusa Tenggara barat khususnya.

Lombok Post memberitakan bencana kekeringan tahun 2020 ini melanda 74 kecamatan dan 318 desa di NTB. Tidak kurang dari 651.735 jiwa penduduk terdampak kekeringan di sembilan kabupaten/kota. Daerah yang saat ini dilanda kekeringan sebagian besar merupakan langganan kekeringan. Daerah-daerah seperti wilayah selatan Pulau Lombok, Sumbawa, Bima, dan Dompu selalu  kesulitan air.

Berdasarkan data BPBD BPBD NTB hingga akhir Juli lalu,  tercatat  318 desa/kelurahan dilanda kekeringan di NTB dengan jumlah masyarakat terdampak 182.546 KK. Seperti di Lombok Utara, sebanyak 19 desa dilanda kekeringan dengan jumlah warga terdampak 8.661 KK atau 26.036 jiwa.

Kemudian, Lombok Barat sebanyak 28 desa, jumlah warga terdampak 8.064 KK atau 32.255 KK, Lombok Tengah sebanyak 83 desa, jumlah warga terdampak 69.294 KK atau 273.622 jiwa. Selanjutnya, Lombok Timur 51 desa dengan warga terdampak 44.669 KK atau 129.455 jiwa.

Sumbawa Barat sebanyak 13 desa, dengan jumlah warga terdampak 2.716 KK atau 10.302 jiwa, Sumbawa sebanyak 42 desa, jumlah warga terdampak 20.189 KK atau 80.765 jiwa.

Kemudian, Dompu sebanyak 34 desa, dengan warga terdampak 16.936 KK atau 51.577 jiwa, Kota Bima sebanyak 12 kelurahan, warga terdampak 6.392 KK atau 19.880 jiwa dan Bima sebanyak 36 desa dengan jumlah warga terdampak 5.625 KK atau 27.843 jiwa

Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah, SE, M. Sc menetapkan status NTB siaga darurat kekeringan. Penetapan status siaga darurat kekeringan tersebut sesuai SK Gubernur No.360-607 Tahun 2020 yang mulai berlaku 14 Juli sampai dengan 31 November 2020.

Tentu, kekeringan tahun ini lebih menantang sebab bersamaan dengan bencana Covid-19. Dalam penanganan pandemi Covid-19, air sangat dibutuhkan untuk ketahanan pangan dan menerapkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS).

Sulistiyono (Direktur Koslata)

Menurut direktur Koslata, Sulistiyono langkah antisipatif perlu dilakukan, penting ada treatment pembangunan sebelumnya “kalau setiap tahun membagikan air di wilayah yang dilanda kekeringan hanya seperti cuci piring, dan ibarat pemadam kebakaran yang memadamkan api. Mencaritahu kenapa terjadi dan solusi yang tepat ini yang harus dilakukan” ungkapnya.

Di sela-sela rehat di Kantor Koslata ia menambahkan “kita perlu menghidupkan kembali budaya manen air ditengah-tengah masyarakat, artinya menampung air dimusim penghujan agar air tidak terbuang. Bisa menampung dengan membuat embung-embung atau dengan membuat lubang mirip embung yang dilapisi terpal. Sehingga ketika kekeringan melanda stok air masih tersedia” pungkasnya.

Koslata

Perkumpulan yang bervisi untuk mewujudkan perubahan sosial yang demokratis dan berkeadilan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *