Power Rangers Itu Perempuan

Ibu Sri saya perhatikan sangat aktif di kegiatan desa sejak ikut Kaukus Perempuan ini. Oh, ya, kenapa ibu Sri beli hp android? Bukankah aplikasi PowerUp ini lebih banyak memperkenalkan pesan suara? Tanya saya kepada ibu yang bernama lengkap Jero Sriwati ini pada suatu sore di Rumahnya di Dusun Baturiti, Desa Mambalan, Rabu (19/2/2020).

Perempuan berusia di atas tiga puluhan tahun ini pun bercerita proses perubahan yang dia rasakan sejak adanya Program Power Up di Desa Mambalan.

Ia menghela napas panjang. Dia pun mulai mengatur detak dan irama jantungnya seperti hendak mengungkapkan sesuatu yang sangat penting baginya. Bola matanya kian berbinar selepas tanya saya memberondong titik kesadarannya.

“Saya hanya lulusan sekolah dasar,” ujar ibu Sri, menundukkan pandangan. Tak kubiarkan matanya lolos dari tatapanku sembari kupersiapkan daftar pertanyaan yang lain.

Terus Ibu, bagaimana ceritanya itu? desakku lagi.

“Saya itu diminta jadi Kader Posyandu sejak 2018 lalu. Pak Kadus yang meminta saya. Awalnya saya menolak, karena saya kurang percaya diri. pendidikan saya itu, saya tidak sekolah. Saya hanya lulusan SD,” kata ibu Sri.

Ah, jangan mengarang cerita, hanya karena saya bertanya ke side, kataku memotong kalimat jawaban ibu Sri.

“Ya Allah, iya, serius! Saya ini ndak sekolah! Hanya sampai duduk di bangku SD!” ia pun meninggikan intonasi suaranya dan bersikeras meyakinkanku.

Terus kenapa ibu Sri beli HP? Tanyaku lagi.

“Saya terpaksa beli hp android gara-gara ikut di kaukus perempuan ini. Saya merasa saya tidak mau ketinggalan informasi! Kan saya tidak sekolah. Masa saya mau kalah dengan orang yang bersekolah? Hp bagi saya, bukan untuk gaya, tapi saya memang butuh untuk memudahkan saya mendapatkan informasi tentang desa ini.

Saya harus tahu sampai sekecil-kecilnya. Serius saya penasaran, apalagi waktu Musdes itu kan saya diundang rapat ke kantor desa. Di situ saya dapat informasi. Saya baca dulu lembaran anggaran yang dibagikan satu-satu ke peserta yang hadir waktu itu. Saya ndak lihat side datang sih mas Hari. Waktu itu kita rapat sampai sore hanya bahas alokasi dana-dana itu dah… Terus dalam hati saya bertanya, katanya dana yang masuk ke Desa itu besar? Tapi kok? Tapi itu pertanyaan saya dalam hati saja. Saya ndak mau ngomong, saya teliti dulu satu-satu. Kalau saya merasa diri mengerti, baru saya berani ngomong, karena saya ndak mau dikatakan salah omong, asal ngomong saja kalau saya belum teliti dulu dengan rinci apa yang orang omongkan,” tutur ibu Sri.

Oh, gitu alasannya, sehingga ibu Sri beli HP android, baru tahu saya. Padahal ibu Sri sudah punya HP monokrom biasa ya waktu kita pelatihan 26 Daya Kelin untuk Kader Posyandu itu ya. Terus sejak kapan ibu Sri beli HP? Padahal waktu nelpon nomor pesan suara itu HP monokrom malah yang bisa nyambung kan ya? Tanya saya sambil tersenyum.

“Ya, sejak saya ikut kaukus ini sudah. Ya, setelah kita pelatihan Daya Kelin tahun 2019 lalu itu. Di samping saya memang butuh HP agar tak ketinggalan informasi, ya mau ndak mau saya usahakan untuk punya.” jawab ibu Sri.

Oh, begitu ceritanya. Ada pengaruhnya ndak ya setelah ibu Sri ikut kegiatan Power Up di kaukus ini?

“Banyak sih perubahannya mas Hari.”

Sebentar, sebentar… Saya atau ibu Sri yang mengalami perubahan ini? Perubahan apa yang paling banyak ibu rasakan?

“Banyak, masa gak ada perubahan? Banyak sih perubahannya. Terutama saya, perubahan yang paling saya rasakan itu setelah pelatihan Daya Kelin itu, jadinya bisalah saya jelaskan tentang pentingnya ibu-ibu hamil menjaga kondisi kesehatan kehamilannya.

Sejak adanya kaukus ini saya jadi bisa belajar banyak hal, terutama yang berkaitan dengan diri saya sebagai kader posyandu. Ndaklah saya terlalu kelihatan bodo di depan orang-orang (peserta posyandu) itu. Bisalah saya jelaskan apa itu gejala-gejala yang sering dihadapi oleh ibu hamil, misalnya tentang pendarahan, tekanan darah tinggi dan lain-lainnya itu.

Saya juga merasa lebih peduli dan mau belajar, ya supaya ada pengetahuan kita kan misalnya kalau ada yang bertanya apa ini, apa itu. Lha, kalau ndak bisa kita jelaskan dong malu kita. Tapi kalau yang lebih mendalam jaq ndak berani kita jelaskan. Saya suruh aja dia bertanya langsung ke bidan desa atau ke dokter puskesmas.

Sekarang ibu-ibu di desa ini juga banyak yang dilibatkan kalau ada musyawarah di desa. Dulu jaq jarang ada yang mau datang. Suara kita sekarang jadi lebih didengar. Usulan-usulan kaukus juga banyak yang masuk di RKPDes tahun ini, kecuali ya usulan kolam renang itu, padahal itu bagus untuk pendapatan desa, tapi lahan tempatnya untuk membangun itu yang belum ada.

Sekarang ini udah banyak yang peduli tentang perencanaan pembangunan di desa ini. Saya asalkan diundang pasti saya datang,” jelas ibu Sri mengakhiri perbincangan tentang perubahan yang ia alami sejak terlibat di program Power Up.

Koslata

Perkumpulan yang bervisi untuk mewujudkan perubahan sosial yang demokratis dan berkeadilan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *