ORANG-ORANG MEMANGGIL SAYA: IBU KAUKUS

Penutur: Ibu Tuti Alawiyah (Kaukus Dopang Ceria, Desa Dopang, Lobar, NTB)

 

Pertama kali saya terlibat di program Power Up ini sekitar bulan Juni 2019, saat kegiatan pembentukan Kaukus di Desa Dopang. Kesan pertama saya, program ini secara umum biasa saja. Tetapi saya terus mengikuti berbagai kegiatan yang dilaksanakan. Terlebih lagi, saya diberikan tanggung jawab sebagai koordinator Divisi TIK.

Setelah beberapa bulan terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan Koslata, saya merasakan beberapa perubahan. Pertama, sikap suami kepada saya menjadi lebih terbuka dan positif. Dia mendukung aktivitas saya di luar rumah. Pada dasarnya, suami saya tidak pernah terlibat dalam kegiatan Power Up Project, tapi terdampak karena saya juga terbuka. Saya akan selalu mengabarinya tentang apa pun yang saya kerjakan dan dapatkan dari keterlibatan saya di Kaukus. Menurut cerita suami saya, beberapa tetangga bertanya-tanya tentang perubahan saya sekarang yang sering ke kantor desa atau berkegiatan di luar. Suami saya menjawab, saya aktif di Kaukus, perkumpulan perempuan yang berperan menyuarakan aspirasi dan kepentingan perempuan di desa.

Perubahan lainnya, saya menjadi aktif menggunakan TIK, seperti media sosial facebook dan grup WA. Sebelumnya, saya hanya menggunakan hape “jadul”. Aktivitas saya di rumah saja dan tidak memahami isu-isu pembangunan desa, meskipun bapak saya pernah menjabat sebagai Sekdes. Tapi sekarang dengan adanya hape Android, saya dan suami mendapatkan informasi yang beragam dari berbagai sumber, misalnya informasi terkait pembangunan desa dan dana desa. Selain itu, saya juga aktif mem-posting aktivitas saya dan Kaukus melalui facebook.

Karena keterlibatan saya di Kaukus, beberapa orang memanggil saya: Ibu Kaukus. Pemerintah Desa juga mempercayakan saya untuk duduk sebagai anggota PKK. Meskipun sampai saat ini, setelah beberapa bulan berlalu, tugas dan tanggung jawab saya belum jelas.

Tetapi, perubahan paling bermakna yang saya alami adalah meningkatnya kepercayaan diri saya. Karena dengan kepercayaan diri ini kemudian saya mampu membangun jaringan yang dulu tidak terbayangkan, seperti dengan Kementerian PPA yang masih terjalin sampai sekarang. Selain itu dengan Dinas P2KBP3A Lombok Barat. Bahkan beberapa program bantuan yang masuk desa juga melalui saya. Di samping itu, dengan keberanian dan kepercayaan diri itu saya pernah “ngotot” agar dapat menghadiri Musrenbang penetapan RPJM Desa yang diselenggarakan di malam hari. Padahal saya tidak mendapatkan undangan resmi. Saya negosiasi dengan pendamping desa, meskipun saya tidak kenal. Akhirnya, saya dipersilakan ikut. Itu merupakan partisipasi pertama saya dalam forum resmi di desa. Saya juga pernah mempertanyakan anggaran PKK yang tidak jelas penggunaannya kepada anggota BPD melalui WA. Sebelumnya, saya tidak memiliki keberanian untuk mempertanyakan. Apalagi masyarakat sudah paham karakter pemerintah desa yang anti kritik dan tertutup.

Proses perubahan ini berlangsung setelah saya mengikuti kegiatan pelatihan yang dilaksanakan Koslata. Salah satunya, pelatihan pemanfaatan TIK untuk peningkatan partisipasi perempuan pada akhir Oktober 2019 lalu. Pada pelatihan itu, saya diperkenalkan dengan aplikasi JAGA yang dikembangkan KPK. Dari situ, saya mengetahui Dana Desa yang diterima Desa Dopang dan dipergunakan untuk apa saja. Informasi ini kemudian saya sampaikan ke suami saya, dan suami menyampaikan ke kawan-kawannya agar bisa mengawasi bersama penggunaan dana desa. Dan tentu, selain melalui pelatihan-pelatihan, perubahan ini juga dikontribusikan oleh dorongan, motivasi, dan pendampingan Fasilitator Desa Koslata.

Koslata

Perkumpulan yang bervisi untuk mewujudkan perubahan sosial yang demokratis dan berkeadilan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *