Mereka yang Tangguh di Tengah Bencana

Perempuan, anak-anak, lansia dan orang dengan disabilitas menjadi kelompok paling rentan ketika dihadapkan dengan situasi bencana. Tapi di antara mereka, lahir para pejuang sehingga mereka secara pribadi bahkan terhadap komunitasnya; mampu berubah dari kondisi rentan menjadi berdaya.

Marnim adalah satu potret perempuan yang tangguh di tengah kepungan bencana. Seperti perempuan desa pada umumnya, perempuan kelahiran 1973 ini sehari-hari menjalankan perannya sebagai seorang ibu rumah tangga. Bermula pada 8 Januari 2010 Marnim membentuk Kelompok Usaha Perempuan (KUP) atas dorongan Koslata. Pembentukan kelompok ini sebagai salah satu upaya dalam menghadapi situasi terburuk akibat bencana. Kelompok ini beranggotakan 20 orang istri anggota Kelompok Tani Hutan (KTH) Meleko Bangkit, dengan simpanan pokok berupa biji kopi kering seberat 1 kilogram.

Marnim aktif terlibat dalam berbagai program yang dilaksanakan oleh Koslata. Ia menjadi salah satu penerima manfaat dari Program Pengurangan Risiko Bencana (Building Resilience) pada tahun 2011, dan Program Pengembangan Model Kepemimpinan Perempuan Tangguh Bencana pada 2017 lalu. Berkat keaktifannya ini, Marnim mulai mengenal peran lain perempuan di luar urusan domestik dan semakin meneguhkan semangatnya untuk giat membantu perempuan di sekitar tempat tinggalnya untuk keluar dari situasi rentan.

Pada 27 Mei 2015 KUP Meleko Bangkit berubah bentuk menjadi Koperasi Wanita (Kopwan) Meleko Bangkit. Melalui organisasi ini, Marnim bersama 48 anggotanya mengembangkan unit usaha dan kegiatan lain. Unit usaha yang dikembangkan Kopwan Meleko Bangkit adalah simpan-pinjam, pengolahan kopi untuk meningkatkan nilai tambah, anyaman bambu dan pemanfaatan umbi porang yang banyak ditemukan di dalam kawasan hutan. selain itu, mendorong pemanfaatan pekarangan rumah untuk memenuhi pangan keluarga.

Jumlah anggota Kopwan Meleko Bangkit saat ini sebanyak 48 orang dengan pendidikan tertinggi setingkat SLTP. “Setiap tahun, kami siapkan THR untuk anggota dalam bentuk bahan pokok seperti minyak goreng, telur, beras, dan uang.” kata Marnim menjelaskan manfaat lain yang diterima

anggotanya. “Mereka juga tidak kita kenakan bunga pinjaman saat meminjam untuk membeli beras rastra,” lanjutnya.

 

Untuk memastikan keberlanjutan upaya-upaya tersebut, Marnim aktif terlibat pada kegiatan musyawarah perencanaan pembangunan desa. Dengan demikian, ia dapat menyampaikan aspirasi kelompoknya agar dimasukkan menjadi salah satu prioritas pembangunan desa maupun kabupaten. Setiap bulan, seluruh anggota berkumpul untuk mendapatkan laporan perkembangan

Rapat bulanan anggota Kopwan Meleko Bangkit menjadi kesempatan untuk silaturrahmi, menyampaikan laporan perkembangan usaha sekaligus mereka menabung.

usaha. Momen ini juga digunakan oleh semua anggota untuk menabung.

Delapan tahun berlalu, Kopwan Meleko Bangkit yang dipimpin Marnim mengalami perkembangan cukup baik. Pemerintah desa, kabupaten bahkan provinsi setiap tahun memberikan berbagai pelatihan untuk peningkatan kapasitas pengurus dan anggota. Produk-produknya pun selalu diikutkan dalam pameran di tingkat lokal maupun nasional.

Dampak dari kerja-kerja tersebut di tingkat komunitas sangat terlihat paska gempa pada awal Agustus 2018 lalu. Kehidupan Marnim dan keluarganya, juga anggotanya yang berjumlah 41 orang, tidak terdampak parah seperti masyarakat lainnya.

Marnim sendiri, misalnya, ia membudidayakan ikan air tawar di lahan sawah yang berada di belakang rumahnya . Lahannya yang ditanami padi dua kali setahun ini juga ditanami beragam pohon buah, bunga dan rumput gajah. Yang juga dipadukan dengan peternakan sapi dan kambing serta budidaya lebah madu trigona, yang dikelola oleh suaminya. Sehingga kebutuhan hidupnya paska bencana tidak terganggu, apalagi rumah dan property lain miliknya tidak mengalami kerusakan. Sementara itu, dampak pada anggota Kopwan di antaranya, mereka dapat mengakses pinjaman untuk melanjutkan hidup dengan keluarga paska gempa untuk membeli beras dan kebutuhan pokok lainnya.

“Saya berharap perempuan-perempuan, khususnya yang ada di sini dapat ikut terlibat dalam berbagai kegiatan yang dilaksanakan oleh kelompok masyarakat, LSM maupun pemerintah, agar memiliki pengetahuan dan kapasitas untuk bisa berdaya, tangguh di tengah situasi bencana seperti saat ini,” kata Marnim.

Koslata

Perkumpulan yang bervisi untuk mewujudkan perubahan sosial yang demokratis dan berkeadilan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *